Baru Mengerti
Aku
sedang berdiri di depan makam seseorang yang kucintai. Di tengah hari seperti ini, rasa bersalah semakin
membesar jika mengingat kematian Wanda.
Saat
itu tanggal 24 Maret
2018
aku masih teringat sedang berdiri di pinggir jalan menatap seseorang yang
menuruni kendaraan dengan raut bahagia. Tengah malam yang ku pijaki seolah
menandakan betapa temaramnya hati yang kurasakan saat seseorang yang ku cintai
lebih bahagia bersama orang lain dibandingkan denganku. Mungkin diantara kami
sudah tidak ada kata cinta lagi. Karena aku ... Memang tidak sepantasnya untuk dicintai.
Tanpa
aba-aba, tubuhku ini berjalan mendekati mereka. Aku terlalu penasaran sekaligus
cemburu dengan pria yang membuat Wanda tersenyum. Namun begitu aku datang,
senyuman itu tidak terlihat lagi. Ia hanya tersenyum kepada pria yang
dicintainya.
“Fadli,
kenapa kamu?” menarik tanganku untuk menjauh dari pria yang baru saja
mengantarnnya, “Apa kamu masih tidak mengerti?” lanjutnya,
Aku
yang merasa seperti hambatan di tengah kemesraan mereka menjadi tersudut.
Bagaimana bisa Wanda mengatakan hal tersebut?
“Dengar
ya, aku ingin detik ini juga kita putus! Dia jauh lebih sempurna daripada kamu! Kamu sadar diri, dong!
Kamu ini tunarungu, kalau aku lepas alat pendengaranmu itu, kamu tidak akan
bisa mendengar!”
Untuk
kedua kalinya aku mendengar bahwa Wanda menjadikan kekuranganku sebagai alasan.
Wanda lantas pergi dari hadapanku dan meminta maaf kepada pria yang sedaritadi
menunggu.
Aku
dapat mendengar suara lembut Wanda yang berbeda
sekali jika berbicara kepadaku. Pria yang kini kutahu bernama Rian sangat
beruntung dapat dicintai Wanda dengan sepenuh hati. Begitu percakapan mereka selesai, Rian
berpamitan pulang. Sekarang Wanda sendirian dan aku ingin bertanya kepadanya. Tanpa peduli waktu yang sudah menunjukkan pukul 00.21.
“Apa
kamu masih mencintaiku?”
“Tidak!
Aku tidak mencintaimu! Kamu ini ternyata masih tidak mengerti, ya?! Sudahlah aku ingin
pulang, lagipula kita sudah putus!”
Lagi
dan lagi ia menjawab tentang mengerti ataupun dimengerti. Aku tidak tahu maksud
dari jawaban wanita yang selalu ingin dimengerti.
“Lalu
kenapa kamu
menerima cintaku jika kamu tidak mencintaiku?” tanyaku lagi,
“Karena
aku kasihan padamu! Di dunia ini tidak akan ada yang bisa menerimamu! Kamu itu cacat! Jadi jangan berpura-pura
menjalani hidup sebagai manusia normal!”
Tanpa
diduga, Wanda melepaskan alat bantu pendengaranku. Dia melemparnya ke tengah
jalan tanpa merasa bersalah sedikitpun. Setelah kejadian itu, aku benar-benar
tidak bisa mendengar ucapan Wanda selanjutnya. Mencoba mengerti gerakkan dari
bibirnya saja tidak bisa karena dia berbicara terlalu cepat.
Hingga
akhirnya Wandapun pergi. Ia menyeberang dengan tenangnya karena situasi jalan
raya yang sedang lengang. Aku hanya bisa menatap kepergiannya tanpa bisa
menghentikan langkahnya.
Entah
apa yang sedang ku pikirkan, aku melamun di tengah jalan untuk mengambil alat
pendengaran yang dilempar oleh Wanda. Tapi sebuah mobil datang dan hampir
membuatku terbunuh karena Wanda berlari untuk menyelamatkanku.
Setelah kecelakaan itu, Wanda mencoba memasangi alat pendengaranku.
Tangannya berlumuran darah dan membisikkan, "Maafkan aku, Fadli. Tolong
maafkan aku."
Untuk
pertamakalinya aku melihat Wanda menangisiku. Aku tidak bisa untuk tidak
memaafkannya karena aku begitu mencintainya. Saat itu, aku kira akan meninggal.
Namun ternyata sebaliknya, Wanda meninggal karena saat kejadian dia
menyelamatkanku. Wanda berlari ke arahku adalah buktinya. Aku baru tahu jika Wanda memang tulus
mencintaiku. Rian bukanlah pacar Wanda melainkan dokternya Wanda karena selama ini dia menyembunyikan penyakit kankernya
dariku. Satu hal yang tidak kumengerti darinya adalah mengapa dia
menyembunyikan cintanya dariku? Seharusnya dia terus terang sehingga aku bisa
memahaminya.
"Wanda, maafkan aku," Itulah
kata-kata yang bisa ku ucapkan di depan makamnya sekarang.
Komentar
Posting Komentar