Bayangan Jiwa
Malam yang diselimuti oleh awan
gelap itu mulai menurunkan air hujan. Suasananya begitu mencekam ditemani oleh
suara guntur yang mendegam. Dhea duduk seorang
diri di halte menunggu bus selanjutnya. Selagi menunggu, gadis itu memerhatikan
seorang pria yang berdiri di seberang jalan. Mungkin sekarang sudah setengah
jam lamanya. Dhea bersidekap sembari memandangnya. Pria itu kini beralih,
beringsut membiarkan diri terkena hujan.
"Apa yang ada
dipikirannya? Dia sudah gila!"
gumam Dhea dalam hati.
Dhea mengamati wajah pria itu baik-baik. Gurat wajah penuh kekhawatiran terpampang padanya. Namun kejadian
tidak diinginkan terjadi. Pria itu berjalan semakin
dekat dengan jalan raya dan menghentikan langkahnya di tengah jalan. Di
depannya ada sebuah mobil yang melaju dengan kencang.
Kali ini Dhea tidak bisa tinggal diam. Bila kejadiannya diluar kendali, mau tak mau Dhea menghampirinya dan membawanya
kembali ke sisi jalan.
“Kau bosan hidup, ya?!” gerutu Dhea. “kalau bosan hidup jangan bunuh diri! Di dunia ini banyak
yang ingin hidup tapi kau malah ingin mati!”
Pria itu memalingkan wajahnya, menepiskan tangan yang
sedaritadi digenggamnya. “Gadis bodoh! Harusnya ini menjadi bagian dari
kematianku yang kedua.”
Dhea tidak menanggapi melainkan melirik ke arah kanannya.
Ia melihat lampu sorot yang terpancar dari bus. Dhea tersenyum karena sebentar
lagi akan berpisah dengan pria gila di hadapannya. “Ku pinjamkan payungku untukmu. Jika kau
basah seperti itu lama-lama bisa sakit.” Menyodorkan payungnya yang tersandar di halte.
Bus yang dinantikan Dhea berhenti. Laki-laki itu diam
tidak bergeming sementara tangan kirinya
menerima payung yang disodorkannya.
Dhea menaiki bus dan meninggalkannya di halte sendirian.
Lagipula rute bus mereka berbeda terlihat saat Dhea melihatnya di seberang
jalan. Meskipun pada akhirnya Dhea terlepas dari pria itu. Namun siapa sangka
justru membuat Dhea terus mengingatnya.
“TUNGGU!” seru pria itu.
Pintu bus yang awalnya tertutup kini terbuka lagi. Pria
tersebut menaiki bus yang sama dengan Dhea dan berdiri di hadapannya. “Aku butuh bantuanmu.”
Dhea—lawan bicaranya—mengernyit keheranan. “Tidak bisa,
aku bahkan tidak mengenalmu jadi untuk apa aku membantumu?”
“Namaku
Dafa, apa itu
cukup untukmu? Kau sudah mengetahui namaku jadi ikut aku.”
Dhea memandanginya tanpa berkedip. Ia masih merasa heran
dengan pria yang sedang menariknya ke luar bus. Di bawah naungan payung, Dhea
dan Dafa berjalan bersamaan. Pria itu yang memimpin jalannya. Dhea bahkan tidak
tahu ke mana mereka akan pergi ditengah cuaca tidak bersahabat terlebih di
malam hari.
Dhea memerhatikan sekitarnya. Ia mulai merasa janggal
pada rute jalan yang semakin berada di tempat sepi. Dhea yang ketakutan
memberanikan bicara. “CUKUP! Kau sudah kelewatan! Apa kau mau menculikku, hah?!”
Dafa menghela napas. “kau
siapa dan kenapa kau tidak takut padaku?”
“Namaku
Dhea Thalia dan tentu saja aku tidak takut padamu. Aku hanya takut pada
kelakuanmu tadi tahu!”
Dafa seketika kehilangan kata-kata untuk berbicara. Gadis
di hadapannya terlalu lugu dan akhirnya
Dafa memutuskan untuk menceritakan semuanya. “Maksudku ... apa kau tidak takut
padaku karena aku ini adalah hantu? Bagaimana bisa kau melihatku? Aku membawamu
keluar bus karena orang-orang di sana mengataimu gila karena berbicara sendiri!
Bahkan supir bus itu membiarkan kita turun padahal bus seharusnya sudah
berangkat.”
Dhea mencerna kata-kata Dafa, tapi
tak ada satupun yang dimengerti. “Jadi, kau ingin
bilang bahwa kau ini sudah meninggal dan harusnya aku tidak bisa melihatmu
ataupun menyentuhmu. Lalu,
maksud kau membawaku ke sini bukan karena kau membutuhkan bantuanku melainkan
kau kasihan padaku karena dianggap gila oleh masyarakat lantaran sebelumnya aku
bicara denganmu di halte, begitu?”
Dafa memejamkan matanya sebentar sebelum mengangguk. “iya, awalnya
aku membawamu ke mari karena alasan itu, tapi sekarang tidak lagi. Aku sungguh membutuhkan bantuanmu
untuk mengembalikan jenazahku
sebelum aku benar-benar pergi.”
Dhea mulai merasakan merinding di sekujur tubuhnya. “Ka—kau... hantu? Aku kira hanya
candaanmu saja. Lalu,
bagaimana bisa aku....”
“Kau ini
bagaimana? Aku sudah menjelaskannya dan karena itu pula aku
bertanya padamu. Sudahlah! Jika kau
menolak, kau tahu bukan apa yang biasa hantu lakukan?”
Dafa melepaskan payungnya dan mencengkeram kedua pundak Dhea untuk menakutinya.
Lupa bahwa cuaca malam itu sedang hujan, alhasil Dafa
membuat Dhea kembali basah kuyup setelah sebelumnya sudah menyelamatkannya dari
kematian kedua.
“Aku akan menolongmu, tapi dengan satu syarat kau harus menceritakan semua yang terjadi padamu, terlebih
kenapa saat kau sudah meninggal kau bahkan mencoba bunuh diri lagi? Itu kan
hantu bodoh namanya!” sindir Dhea begitu berhasil menguasai
diri.
Dafa tidak keberatan dengan persyaratan yang diajukan,
toh dirinya sendiri yang meminta bantuan pada Dhea.
“Kau ini!” Dafa mencoba menahan diri dari emosi. “Aku dibunuh oleh ayahku. Sebenarnya saat kau menyelamatkanku, mobil
yang melaju kencang itu adalah mobil miliknya. Dia menabrakku saat pulang
lembur dari kantor. Ketika aku melihat mobil itu lagi, rasanya aku benar-benar
ingin mati ditangannya. Tapi kau malah muncul padahal
aku ini hantu! Ayah membenciku bahkan dari aku lahir. Perusahaan tidak
seharusnya dikelola olehku melainkan adikku dengan alasan aku ini bukan anak
kandungnya. Dia sering mengataiku anak haram dan aku memutuskan pergi dari
rumah bersama bundaku. Sekarang kau puas?”
Mendengar Dafa menceritakannya ada rasa prihatin
sekaligus menyebalkan dihati Dhea. Ia kemudian mengangguk sebagai tanda bahwa
syarat sudah terpenuhi. Kini gilirannya yang membantu Dafa. “Tunjukkan lokasi
kecelakaanmu.”
Dafa tersenyum.
Sebelum mengikuti pria itu, Dhea mengambil payung yang dijatuhkan Dafa. Selama
berjalan mengikuti 'hantu', ada perasaan tersendiri bagi Dhea. Sulit untuk
diungkapkan bagaimana perasaan Dhea mungkin karena dia bergantung padanya jadi
timbul rasa peduli.
Setelah berjalan sekitar lima belas menit, Dhea terpaku
di tempatnya. Lokasi yang Dafa tunjukkan adalah halaman depan perusahaan baru dia.
Pantas saja selama di perjalanan Dhea merasa tidak asing dengan jalanannya.
“Kau kenapa?” tanya Dafa yang heran melihat Dhea membisu.
“Ini perusahaan baru tempat aku bekerja. Aku dimutasi ke sini,” kata Dhea sambil menatap tajam lawan bicaranya.
Keadaan menjadi lengang sejenak. Dafa jadi teringat surat
yang kemarin dikirim ke mejanya. “Kalau begitu kau
karyawan baruku? Maaf saja, ya? Aku ini berarti atasanmu tahu?” Dafa mengalihkan pandangannya untuk
melihat bintang.
Hujan sudah berhenti.
“Apa?!
Jika benar, kau adalah atasan buruk nan bodoh. Aku
akan menepati janjiku. Kau kecelakaan di sini, kan? Ayahmu sepertinya tidak
begitu pintar.” Dhea mendelik dan
tersenyum penuh kemenangan. Dia lalu menunjukkan sesuatu dengan jari
telunjuknya.
“Hmm... memangnya ada apa?” Dafa melihat ke atas—sebuah
cctv terpasang di samping tiang listrik .
Dafa tersenyum puas.
“Kau bisa cari tubuhku. Sepertinya aku akan pergi
sekarang. Terima kasih, kalau kau bertemu bunda, bilang aku menyayanginya
jangan menangisiku. Begitupula denganmu, kau gadis yang baik, sampai jumpa
nanti.” Dafa tersenyum tulus dan tanpa sadar menitikkan air mata.
Dhea langsung memeluk Dafa yang juga membalas pelukannya. Begitu erat
sampai mereka tidak ingin melepaskannya. Namun entah kenapa pelukan yang
dirasakan Dhea semakin memudar.
“Baik? Padahal
berkali-kali aku mengatakanmu bodoh, kau sangat bodoh aku baru mengenalmu tapi
kau sudah mau pergi lagi. Jadi pergilah dengan damai, aku tidak akan menangisimu.”
"Terima kasih."
Jawab Dafa untuk yang terakhir kali.
Pelukan yang dirasakan Dhea menghilang. Pencarian
langsung ia lakukan karena merasa pria itu masih hidup. Benar saja, tubuhnya terkulai
lemah, bersimbah darah terutama bagian kepala. Setelah mengumpulkan keberanian,
Dhea mencoba memeriksa denyut nadinya.
Berdetak lemah.
Dhea menyungging. Masih ada harapan hidup. Dengan tangan
gemetaran penuh noda darah Dhea berusaha memanggil polisi dan ambulans.
Malam itu pukul 00.31. Antara hidup dan mati keselamatan
Dafa dipertaruhkan. Namun tidak lagi setelah dokter di rumah sakit mengatakan
bahwa Dafa berhasil melewati masa kritisnya.
Kau akan
hidup tapi mungkin kita tidak akan bertemu lagi. Batin Dhea.
Komentar
Posting Komentar