Bab 2 - Kerajaan Kribel

 


***

Arfian tak pernah berpikir bahwa dirinya akan berpisah seperti ini. Berada di tempat asing yang kini berbaring di ranjang kerajaan dengan kondisi luka di kaki sudah terbalut. Arfi mulai meragukan hal-hal yang diceritakan Ghinos. Mulai dari ceritanya yang tidak rinci, bertanya pun tidak bisa memastikan kebenaran jawaban. Perasaan bersalah menyeruak, jauh-jauh terseret ke negeri asing demi rasa keingintahuan yang sesaat. Dia seharusnya tahu batas.

Remaja itu menengok, menatap ke arah jendela besar mengamati matahari yang bersembunyi di rindang pohong. Kicauan burung menyadarkan dia bahwa ini bukanlah negerinya. Sepersekian detik dia beranjak dari kasur dengan langkah pincang. Ruangan yang besar membuatnya butuh waktu untuk sampai ke pintu kamar.

Tangan yang belum meraih knop, tiba-tiba terbuka sendiri-seolah membaca pikiran Arfi agar pintu segera terbuka. Langkahnya yang berjalan di kamar membuat mata berbinar. Lampu hiasan yang menjuntai di tengah lorong semburat jingga; hiasan vertikal yang menonjolkan bentuk heksagonal berukiran rune atau mungkin simbol kerajaan di setiap pilar. Juga kilauan keramik lantai sampai memantulkan bayangan di atasnya.

Dari tiga arah, Arfi memilih jalan lurus menaiki anak tangga sekadar melihat dunia luar, berhubung pintu lain terbuka.

Sial. Dia terdampar di negeri orang. Apa mungkin film fantasi, teori multiverse itu menunjukkan kebenaran jika dunia lain memang ada? Pemandangan ini terasa tidak normal jika dilihat dari kaca mata orang-orang bumi.

'Cyaaaakkk'

Sekarang apa lagi? Burung dengan sayap besar dan ekor yang panjang. Arfi menggeleng, pikirannya jadi tidak normal di tempat yang seharusnya tidak mereka datangi.

Arfi kembali masuk dan memilih menelusuri lorong yang megah di sebelah kiri. Beberapa pelayan istana-mungkin-yang melintas seketika memberi hormat, "Sesilasimatsi pasigisi." membungkukkan badan.

Aneh, tapi begitulah perlakuan mereka: begitu patuh, tunduk, untuk jalan saja terlihat rapih seperti sedang PBB.

Namun Arfi tidak banyak menelusuri, dirinya terpaku dan berhenti tepat di daerah singgasana. Kerajaan tampak sepi tak sebanding dengan megahnya istana. Sekelebat Arfi teringat perkataan Ghinos jika Ratu Filsaxio membunuh Ratu Orlyory. Lagi-lagi dia membuat keputusan yang salah. Sebaiknya dia tetap di kamar.

"Pagi."

Sebuah suara terdengar dari depan membuat Arfi mencari lebih jelas. Matanya menangkap pantulan dari lantai yang menampakkan seseorang di belakang.

Arfi seketika membalikkan badan, menjaga jarak dari kemunculan wanita yang tidak ingin ditemuinya.

'Ratu Filsa' lirih Arfi.

Sang Ratu mengulum senyum.

"Ada apa denganmu?" Ratu Filsa melangkah mendekat karena lawan bicara terus berjalan ke belakang.

"Ti-ti-dak! Ak-ak-u-" Arfian yang terbata-bata tidak mampu mengatakan apa-apa. Dirinya terlalu takut memikirkan ucapan Ghinos.

"Bicaralah aku tidak akan menyakitimu!" lanjut Filsa yang sudah berdiri di jarak yang diinginkan.

"Tolong biarkan saya pergi."

Melihat ketakutan di mata anak itu, Filsa mencoba bersikap lebih baik dan lemah lembut. Tapi sikap ini tidak membawa perubahan cukup banyak. Remaja di hadapannya masih memberi tatapan tidak suka.

"Aku tidak seperti yang kau pikirkan. Pria yang bersamamu sebelumnya adalah orang yang berbahaya. Dia tangan kanan Ratu Erta dan kami bermaksud menangkapnya bukan menangkap kalian."

Arfi diam sejenak. Remaja berusia 15 tahun semakin bingung pasalnya terdapat dua tanggapan yang berbeda. Apapun itu kedua temannya harus kembali. "Jika tidak bermaksud, kenapa kau melakukannya padaku?"

"Tidak mungkin kami meninggalkanmu yang sedang bersama orang yang kami incar."

"Aku tidak ada hubungannya sama masalah kalian. Kami hanya pendatang."

"Dengar, negeri ini bukan negeri yang bisa didatangi orang awam terutama anak kecil. Portal yang membawa kalian ke mari merupakan akses khusus. Jadi, siapa sebenarnya kalian?"

Arfi tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.

"Kami tidak tahu. Tiba-tiba saja cahaya membawa kami ke sini."

Ratu Filsa yang melihat dia menghindari tatapannya merasakan ada sesuatu yang disembunyikan.

"Apapun yang kamu dengar dari Ghinos jangan dipercaya. Semua orang dari Kerajaan Spinark satupun jangan dipercaya. Mereka pengkhianat yang ingin mengambil alih swadaya negeri ini."

Perkataannya membuat Arfi tambah menyesal. Apa ucapan Ratu Filsa benar? Siapa pihak yang harus dia ikuti dan mana yang harus dia hindari?

"Kedua temanku. Aku ingin kami segera pulang."

Dada Arfi sangat sesak memikirkan sang nenek yang menuntunnya ke sini.

"Ada apa?" tanya sang ratu yang membuyarkan lamunan.

"Apa itu penting?" memalingkan wajah.

"Siapa namamu?" Filsa melangkah mundur mengurani atmosfer yang mulai canggung.

"Kau bebas memanggilku apa saja."

'Dasar bocah' pikir Filsa.

"Teman-temanmu dalam bahaya. Tidak ada waktu lagi jika kamu ingin menyelamatkan mereka."

"Kalau begitu, tolong selamatkan mereka. Kami berjanji tidak akan datang lagi."

'Tidak mungkin, secara harfiah sudah seperti magnet bagimu datang kembali'

"Kenapa juga kami ke mari lagi?" spontan Arfi menanggapi.

"Kau membaca pikiranku?" sambar Filsa yang tentu penasaran.

"Bukan. Aku hanya memperjelas bahwa kami tidak mau ke sini." Ucapnya dibalik kebohongan. Ini memang aneh, tapi Arfi jelas mendengar lamunannya yang menggaung di pikiran.

"Istirahatlah, kita bicarakan lagi nanti siang."

Anak itu berjalan ke kamarnya sementara Ratu Filsa berjalan ke singgasana memimpin kerajaan.

Di sana Arfi berbaring meratapi kembali kesalahan yang sudah diperbuat. Dia merasa bersalah kepada Daffa yang meminta segera pulang jauh sebelum kejadian ini menimpa.

***

Lembayung dan cahaya merah yang memenuhi wilayah utara membumbung dalam kegelapan pekat. Asapnya menjalar memenuhi kota diiringi suara riuhan warga. Pihak kerajaan tampak sibuk memberesi kekacauan dengan membunyikan sangkakala pertanda perang.

"Kenapa hanya aku yang harus lari? Apa kalian tega meninggalku hidup sendiri?" rintih seorang anak remaja.

"Kita dalam sinyal merah. Pergilah ke timur, kehidupanmu akan menyelamatkan negeri ini." Jawab sang ibu.

"Ayah, aku tidak mau pergi. Aku ingin bersama kalian."

"Keras kepala! Apa kau tidak mendengar Ibumu?!" Pria itu menampar keras.

Anak yang ditampar mengepalkan tangan sambil menahan tangis.

"Selamat tinggal."

Dia berlari sekuat tenaga menjauhi orangtuanya yang diam di tempat; sang Ayah menitikkan air mata. Tindakannya hanya sebagai gertakan agar dia segera pergi.

"Siapkan pasukan, kita perang sekarang."

***

Arfian membuka paksa kelopak matanya. Keringat dingin bercucuran meninggalkan kesan takut dari bunga tidur yang dia alami. Terlalu banyak kejadian aneh, Arfi secepatnya harus membawa Hera dan Daffa pulang dalam keadaan selamat. Terdengar sederhana tapi dia sendiri tidak tahu bagaimana melakukannya.

***

Bersambung ^^

Komentar

Lebih Lanjut

Prolog - O Negeri Fancy O

Bab 3 - Rencana Pulang