Bab 1 - Negeri FanCY


***

"Hei! Ayo kita kembali. Perasaanku tidak enak di sini." Kata Daffa yang tak henti melihat keadaan sekitar.

"Sebentar. Bukankah ini menarik? Ini jelas bukan Narnia kan?" balas Arfian.

Daffa menggeleng. Meskipun tugasnya menemani, dia tidak mau menemani Arfi ke neraka. Tapi apa boleh buat? Rasa takut yang mencekam mendadak berubah karena langit menjadi cerah. Daffa terpaksa ikut menjelajahi. 

Baru melangkah beberapa meter dari portal waktu yang membawa mereka ke sini. Arfian yang sudah berjalan jauh, tak sengaja berjumpa dengan orang lain. Daffa yang berada di belakang, mulai merasakan takut lagi. Toh, hanya ada mereka bertiga. 

Arfi tentu bertanya kepada orang itu dan orang yang dijumpainya menjawab. Karena bahasa yang digunakan berbeda, Arfi mencoba mengetik apa yang didengar diponselnya.

"Sesalasamatsa dasatangsa disa nesagesarisa Fancysa."

Dilihat dari struktur mirip dengan bahasa Indonesia. Satu hal yang berbeda adalah kata-kata itu disisipkan kata sa. Apabila kata sisipannya dihilangkan maka terdengar seperti bahasa mereka.

"Arfi!! Dia bicara apa?!" teriak Hera dari kejauhan

"Selamat datang di negeri Fancy."

Saat Arfian hendak kembali ke mereka. Dengan sengaja orang tersebut memegang lengannya. Remaja itu berusaha melepaskan genggaman namun dia tidak mau lepas. Tanpa sepatah kata, Arfi melepas paksa genggamannya. 

"Tosalosangsa, sasayasa susadasahasa mesanusangsagusa kasalisaansa!

"Kenapa kau meminta tolong kepada kami?" 

"Kasalisansa adasalahsa orsangsa yangsa disarasamalsakansa." Jawabnya sambil menatap mereka satu per satu.

Hera melangkah mendekati Arfi. "Namamu siapa?" 

"Ghinos-sa." 

Daffa yang tidak tahu apa-apa yang dikatakan orang itu segera bertanya kepada Arfi. "Aku sungguh tidak mengerti. Tolong jelaskan padaku."

"Namanya Ghinos. Kata dia kita orang yang diramalkan." Jelas Arfi.

"Diramalkan bagaimana? Ini pertama kalinya kita ke sini."

Melihat mereka kebingungan, Ghinos meminta mereka singgah ke rumahnya. Dia menjanjikan menjelaskan semua dan menjawab pertanyaan apapun tentang negeri ini. Hera dan Arfi setuju karena penjelasan adalah hal yang dibutuhkan. Berbeda dengan Daffa yang tampak buru-buru ingin pulang. Daffa terpaksa mengikuti ketiganya dan berjalan cukup jauh dari lokasi tiba. Di kepalanya bagaimana bisa ada rumah di tengah hamparan rumput yang kosong seperti itu? Tak masuk akal tapi nyatanya benar-benar ada. Sebuah tempat yang bisa dikatakan rumah, mirip rumah hobbit yang biasa dia lihat di film-film.

Deskripsi rumah kalau tampak depan hanya pintu besar yang melingkar sisanya dipenuhi rerumputan. Serta dua jendela di sisi kanan dan kiri yang mungkin hanya hiasan saja. Rumah itu sangat kecil untuk mereka masuki.

Ilustrasi Via ©attentionera

Pemilik rumah meminta mereka masuk. Ya. Sedikit menunduk mereka masuk ke rumah itu, di dalamnya baru bisa berdiri tegap, rumahnya ternyata cukup besar. Sesuai sama kondisi tubuh mereka yang pendek. Di sana mereka duduk di gelondongan kayu. Mata Hera belum melepaskan pandangannya dari pemilik rumah karena benda dan semua barang terlihat aneh. Lampunya saja berwarna senja, seisi rumah terlihat gelap jika pintu masuk ditutup. 

Setelah merasa nyaman Ghinos mulai berbicara. Para tamu terkejut karena dia dapat berbicara bahasa mereka.

"Kau bisa bicara bahasa kita? Lalu kenapa kau tidak menggunakannya saat pertama kali bertemu?" Hera menanggapi. 

"Butuh waktu untuk bisa berbicara bahasa kalian. Bahkan sebelumnya pun saya baru bisa menerjemahkan ucapan."

Mana mungkin ada makhluk yang cepat mengerti bahasa asing dikala pertemuan pertama mereka. Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang menimpa kepala Hera. Tapi nampaknya ia terpaksa untuk menyimpannya sendiri. 

Ghinos melanjutkan ceritanya. Dulu sebelum mereka datang ke mari. Negeri ini makmur, sejahtera dan bersahaja. Dua kerajaan saling bekerjasama karena memiliki tujuan yang sama, yaitu menyejahterakan negeri. Namun, semenjak kerajaan Kribel berganti masa pemerintahan. Semuanya berubah. Rakyat dibawah kekuasaannya diperbudak atau disiksa sehingga tak satupun masyarakat yang hidup sejahtera.

Lalu salah satu dari masyarakat Kribel mengunjungi Istana Spinark. Dia menceritakan semua yang terjadi di wilayahnya termasuk kondisi kerajaan saat itu. Sang Ratu pergi membuktikan perkataannya bukanlah kebohongan. 

Kedua kerajaan akhirnya berperang dan ratu kerajaan Kribel berhasil membunuh Ratu Orlyory. Sehabis perang, Ratu Filsaxio menutup diri. Hancurnya kerajaan Spinark dan diamnya kerajaan Kribel membuat sistem pemerintahan tidak berjalan normal. Sebagian warga dari kedua kerajaan memilih pergi mengembara menghidupi diri sendiri.

Beberapa tahun setelahnya, seorang pendeta yang entah berasal dari mana datang diantara masyarakat. Dia berkata bahwa akan ada tiga orang datang ke mari untuk mengubah tatanan negeri. Kabar tersebut langsung tersebar ke mana-mana hingga terdengar ke telinga Ratu Filsaxio.

Kabar itu membuat sang Ratu bertindak langsung dengan melakukan pencarian. Masyarakat yang mendengar berita itu memilih menetap di tempat yang diramalkan. Para warga yang hampir putus asa menunggu mereka datang, namun tak kunjung datang. Semua warga terkecuali Ghinos akhirnya pergi. Semua isu dan ramalan pendeta tidak benar, mereka sudah tidak mempercayai semuanya karena tidak pernah datang. Namun, Ghinos tetap memercayainya. Dua tahun hidup sendirian, menantikan kehadiran tiga orang yang diramalkan. Sampai pada akhirnya mereka datang ke sini, membuktikan bahwa ramalan itu benar.

Diakhir penjelasan Hera bertanya satu hal, "Siapa yang menggantikan posisi Ratu Orlyory jika dia sudah meninggal?" lawan bicara menjawab, "Anak sang Ratu, Erta Orlyory."

Meskipun sudah dijelaskan perasaan Daffa tetap tidak tenang. Dia meminta Hera dan Arfian segera pulang. Mereka akhirnya setuju karena tidak baik pula jika harus berlama-lama di tempat asing. Walau mereka adalah orang yang diramalkan atau apalah. Mereka tetaplah remaja di bawah umur. Terutama Arfi yang harus meminta penjelasan neneknya terkait ini.

Setibanya di portal, mereka segera masuk melalui celah pohon di bawahnya. Hanya saja itu tidak berfungsi. Jalan pulang sudah tidak ada karena portalnya masih menunjukkan tempat yang sama. Arfian kemudian berjalan ke arah Ghinos.

"Apa kau yang merusak portalnya?"

"Aku daritadi bersama kalian. Bagaimana bisa melakukan itu?"

"Negeri ini pasti punya sihir kan? "

"Negeri ini tidak ada sihir."

"Terus jika ...." menghentikan ucapannya dan memperhatikan langit.

Burung-burung mengepakkan sayap dan awan gelap tertera di bagian selatan. Seketika kavaleri datang berduyun-duyun dengan pasukan burung memenuhi udara.

Ghinos memberitahu Arfian, Hera, dan Daffa untuk segera lari dan ikut bersamanya ke istana Spinark. 

Raungan di belakang terdengar jelas menyorakkan, "Tasingsikapsi diasi!"

Di tengah pelarian Arfi merasa jantungnya berdegup kencang. Ketakutan luar biasa menjalar keseluruh tubuhnya. Pasukan itu banyak sekali sampai rasanya tidak mungkin mereka bisa lepas dari mereka.

Burung yang memenuhi langit itu melesat, menyerang, mencakar, mematuk, dan menggigit keempatnya sampai Ghinos mengeluarkan pedang dan berhasil menghentikan serangan. Mereka kembali berlari tidak sadar bahwa Arfi sudah tertinggal di belakang.

Remaja itu tersandung akar pohon dan terlihat bersandar di batangnya.

"Pergi!" seru Arfi.

Mereka menghentikan pelarian. Hera yang ingin lari ke tempatnya ragu karena pasukan itu sudah menangkap Arfi. Ghinos yang kecewa menyembunyikan perasaan dan segera membawa mereka ke Istana. Sementara Daffa lagi-lagi tidak mengerti siapa pihak antagonis di sini. Mereka lari karena takut oleh pasukan besar dan mengikuti Ghinos, orang asing, begitu saja.

Semuanya berakhir berpisah. Salah satu dari mereka berada di kerajaan Kribel dan dua diantara mereka di kerajaan Spinark. Hanya waktu yang dapat menyatukan mereka. Kejadiannya terjadi begitu saja di luar daya pikir Arfi sendiri. Seandainya dia menuruti keinginan Daffa pasti tidak akan berujung seperti ini.

***


Translate:

1. Kalian ada di negeri Fancy

2. Tolong, saya sudah menunggu kalian

3. Kalian adalah orang yang diramalkan

4. Tangkap dia

^^^


Komentar

Lebih Lanjut

Prolog - O Negeri Fancy O

Bab 3 - Rencana Pulang

Bab 2 - Kerajaan Kribel