Bab 3 - Rencana Pulang
Hari semakin terik,
Arfi dan Ratu Filsa bertemu di aula menghadap altar yang melayang. Di atasnya
ibarat menampilkan hologram peta wilayah negeri FanCY. Semua tampak 3D ketika
Arfi menyentuh permukaan air yang terasa sangat nyata.
"Ini
posisi kita, kerajaan Spinark ada di arah barat laut tepat di balik Pegunungan
Tiur. Sesuai instruksiku, kau diam saja di lingkaran itu sampai sinar membawamu
ke sana. Jangan lupa menyebut nama mereka. Kau mengerti?" Filsa
menjelaskan.
Arfi
menggangguk paham. Dia tidak punya pilihan lain selain memahami rencana Filsa
yang akan membawa mereka pulang.
"Bagus."
"Bukankah
negeri ini tidak ada sihir?" Arfi bertanya karena perpindahannya bisa
disebut sihir.
"Benar,
ini adalah kekuatan swadaya negeri hanya bisa dilakukan dengan kekuatan
pikiran. Itu alasannya jangan lupa menyebut temanmu, jika tidak kau tidak
mungkin sampai ke mereka."
"Aku
mengerti."
Begitu
Filsa hendak menjelaskan bagiannya, sebuah notikasi muncul dari layar. Ada
tanda merah di dekat kerajaan Spinark. Ratu Filsa membesarkan bagian dan
menekan simbol itu. Pesan singkat muncul menggantikan hologram peta.
"Filsaxio, basawasa anaksa itusa ke darksa valsaleysa masalamsa inisa jamsa 21.00 sensadisarisa jisakasa diasa ingsainsa bersatesamusa densagansa tesamansa."
Tanpa
diterjemahkanpun Arfi sudah mengerti maksudnya.
"Biarkan
aku pergi. "
Filsa
menghembuskan napas kasar kemudian menghentakkan tongkatnya ke lantai. Hologram
itu berputar menampilkan lokasi Dark Valey.
"Kau
tinggal ucapkan 'dark valey' di lingkaran, meski kau di sana sendiri, aku tetap
melindungimu."
Lampu
di aula mendadak mati kecuali altar yang sedang menyorot tampilan hologram.
"Rencana
berubah, aku akan menyiapkan portal arah jam 5. Jika sudah bertemu temanmu, kau
bawa mereka ke sana; aku membereskan sisanya jika sesuatu terjadi, menjadi
bayanganmu."
Arfi
tidak karuan setelah mendengar Ratu Filsa bersembunyi di balik bayangannya.
Ibarat mendengar hal mustahil bisa dilakukan. Lampu kembali menyala sementara
hologram di matikan. Sekarang kecanggungan mewarnai keduanya yang kehabisan
topik. Ruangan begitu lengang, tebak Arfi hanya ada dia dan para pelayan.
Biasanya, struktur kerajaan itu ada raja, antek-antek kerajaan, atau mungkin
pangeran.
"Apa
suasana kerajaan memang seperti ini?" Arfi membuka pembicaraan.
"Benar,
tidak ada siapapun di sini. Hanya aku Ratu Filsaxio yang memimpin wilayah
Kribel."
Tidak
ingin percakapan berkepanjangan, Arfi berjalan ke kamar.
"Hei,
aku tidak mungkin memanggilmu Tanpa Nama. Siapa namamu?"
Dipikir-pikir
tidak ada salahnya jika Arfi memberitahu toh mereka tidak akan bertemu lagi.
"Arfian
Chattorly."
Seberkas
angin sekonyong-konyong muncul dari arah belakang, menerpa mereka seolah Arfi
adalah medan yang menarik angin-angin itu datang. Pintu besar menggebrak
menampilkan cahaya yang menyilaukan, Arfi terpaku sampai kilauan membutakan
pandangannya.
***
"Akhirnya kau kembali. Selamat
datang di negeri kelahiran Fancy tahun 1928." Ujar
seseorang yang suaranya terdengar dari atas langit.
"Kau
siapa? Aku tidak mengenalmu." Arfi bertanya sambil mendongakkan kepalanya.
"Segera, kau akan mengetahuinya.
Bersenang-senanglah di kerajaan Hawga, kerajaan pertama di negeri
FanCY." Jawabannya terdengar memudar.
Arfi
lagi-lagi mendapat kejadian aneh, aula yang dipijaki berubah menjadi tempat
serba putih. Jelas ini bukan surga, kerajaan Hawga yang dibicarakan, terdengar
seperti Hyuuga di anime naruto, itu tidak mungkin. Lalu apa Arfi ada di
purgatory? Pikirannya sudah berpikir ke mana-mana. Kerajaan yang disebutkan
bahkan tidak tampak sama sekali.
"Kau baik-baik saja? Kita harus
segera pergi."
Suara
Ratu Filsa menyadarkan Arfi yang tengah berbaring di sofa. Bagaimana bisa?
"Apa
yang terjadi?"
"Kau
pingsan saat berjalan ke kamarmu. Tidak ada waktu lagi, kau pingsan selama
tujuh jam. Kita harus bersiap."
Dalam
keadaan normal Arfi beranjak bangun dan berdiri di lingkaran yang sama dengan
Ratu Filsa. Pikirannya terus menyebut nama Dark Valey sebagai tujuan, sekelebat
cahaya berpendar dari lingkaran menampakkan rune yang berputar mengelilingi
garisnya. Gerakannya semakin cepat sehingga membuat kilaun yang mampu
menghilangkan mereka.
'Syuushh'
Setibanya Arfi merasakan atmosfer yang berbeda. Di sekeliling mereka dipenuhi gumpalan awan hitam sementara portal yang dibicarakan Ratu Filsa tepat di seberang jembatan gantung mengarah pada sebuah rumah yang dipenuhi kabut. Meski sang Ratu bersembunyi, dia seperti datang sendiri di tengah lembah yang menyeramkan.

Angin yang berhembus dingin membuatnya merapatkan mantel. Iris matanya tidak berhenti mengamati sekitarnya siapa tahu Hera dan Daffa sudah ada di tempat.
"Kau
datang rupanya."
Arfi
mengamati pakaian yang serba hitam terlebih lipstik merah yang mencolok di
bibirnya.
"Di
mana mereka?" tanya Arfi.
"Ikutlah
bersamaku. Jika kedua temanmu ingin hidup."
"Dari
pesanmu kau hanya memintaku ke sini, jadi tepati janjimu." Hardik Arfian.
"Baiklah,"
jawab Ratu Erta, "Ini persembahan untukmu." Erta membentangkan kedua
tangannya. Merasakan kekuatan tangan yang mengalir deras.
Arfian
melihat sekeliling, Ratu Filsa di bawahnya pun dapat merasakan kekuatan gelap
dari Ratu Erta. Dalam sekejap, kedua teman yang dibicarakan Arfi muncul sambil
berdiri di tepi tebing yang curam.
"Apa
yang kau lakukan?!" Arfi belum melangkah karena harus melewati dia.
"Hanya
melakukan apa yang harus dilakukan. Ke marilah dan bergabung dengan kami."
Ajak Erta seraya menyondorkan tangan kanan,
"Tidak
mau!"
Arfian
mengejar mereka sebelum Hera dan Daffa melakukan tindakan bodoh. Pelariannya
diikuti kemunculan Ratu Filsa yang memblokir serangan begitu Arfi melewatinya.
"Bukankah
aku sudah bilang sendirian?! Jangan salahkan aku, Arfian."
Dua
remaja yang berada di tepi tebing mulai berjalan perlahan, tatapannya kosong
sambil berpikir bahwa terus berjalan adalah cara keluar. Dari belakang, Arfi
sekuat tenaga menyusul mereka, kakinya yang pincang lari tertatih-tatih
mencegah kejadian tidak diinginkan.
"DAFFA!!
HERA!! BERHENTI!" Arfi berteriak. Dia putus asa apabila tidak berhasil
menyelamatkan mereka.
"Menyedihkan,
biar aku buat mereka lebih cepat!"
"Maaf,
kau punya urusan denganku!" Ratu Filsa menantangnya.
"Kau
itu bayangan, Filsa. Tidak seharusnya kau membohongi dia." Balas Ratu
Erta.
Tidak
peduli dengan pertarungan kedua ratu, Arfi berhasil menarik tangan
teman-temannya. Meski belum sadarkan diri, dia tetap menuntun mereka ke portal.
Menuju perjalanan Arfi dihadang Ghinos yang berdiri di depan jembatan.
Remaja
itu tidak bisa bertarung dan memilih mengajaknya bicara. Sebelum niatnya
terlaksana, Ghinos sudah menghentikan niatnya dengan menyerang mereka. Arfi
melepaskan genggaman tangan membiarkan teman-temannya berdiri menatap kosong.
Pengaruh Ratu Filsa yang melawan Ratu Erta mampu menghentikan kendali kepada
Hera dan Daffa.
"Aku
mohon. Kami hanya ingin pulang."
"Bukannya
kau sudah pulang?" Ghinos tersenyum miring menebaskan pedang yang berhasil
melukai tangan lawan.
Arfi
meringis memegang tangan yang sebelumnya digunakan untuk melindunginya. Darah
bercucuran dari sayatan luka dan menetes ke tanah lembab.
"Sekarang
lihat aku," mata Ghinos berubah menyala dari mata aslinya yang
keabu-abuan.
Tubuh
Arfi mendadak kelu, tubuhnya menegang dengan posisi yang memaksa dirinya
melihat Ghinos. "Bersimpuhlah dan tundukkan kepalamu."
Badan
yang menegang terjatuh mengikuti posisi yang diinstruksikan Ghinos. Di lain sisi,
Ratu Erta masih berkelit menghindari serangan Ratu Filsa tetapi sejurus
kemudian, tongkat yang diarahkannya berhasil menembus lawan. Bayangan Filsa
hilang seketika.
'Maaf aku tidak bisa berbuat lebih'
Telepati
dari sang Ratu membuat dirinya hilang kepercayaan.
"Busangsa tesamansanyasa. Basawasa diasa." Titah
Erta kepada Ghinos.
Mendengarnya,
Arfi merasakan gelora yang berkecamuk di dada. Matanya tersirat kemarahan besar
sampai keberuntungan memihaknya-perlahan tangan Arfi dapat dikendalikan.
Ghinos
melangkah mendekat, mengikuti titah dari sang Ratu. Namun sebelum itu terjadi,
kabut hitam menutupi sekitar diiringi suara gemuruh yang mendegam. Arfi tidak
tahu dari mana pertanda alam itu terjadi, yang jelas kendali Ghinos sudah
menghilang. Dengan cepat, Arfi menuntun Hera dan Daffa menyeberangi jembatan
gantung. Tinggal sedikit lagi, rumah tua di balik kabut akan membawa mereka
kembali ke rumah.
Sesampainya
di sana, Arfi yang membuka pintu dapat merasakan sesuatu dari balik kabut
mengenai lehernya. Pandangan sekejap berputar tapi tidak menghentikan tujuan,
Arfi sembari memegang tangan mereka berjalan bersama memasuki rumah sampai
kilatan cahaya membawa mereka ke suatu tempat.
"Terlambat."
Erta berkomentar. Rekah senyum tergurat di wajahnya.
"Maaf,
saya telah gagal."
"Bukan
masalah. Kita kembali, Ghinos-sa."
***
Bandung,
20 Agustus 2021.
Pukul
14.34 WIB
Arfian,
Hera, dan Daffa terbaring bersamaan di lantai kotor. Kondisi rumah yang gelap
menyadarkan mereka terutama Daffa yang terbirit-birit membuka pintu. Perasaan
mereka sangat lega begitu melihat kondisi luar masih sama seperti mereka
datang.
Hal
ini membuat mereka melihat jam tangan masing-masing. Waktu tidak berubah,
artinya mereka kembali ke waktu mereka datang.
"Aku
minta maaf, seharusnya kita kembali begitu sampai di sana."
"Ayolah,
tidak apa-apa. Melihat negeri seperti itu tidak salah yang jelas kita
kembali." Daffa yang tadi ketakutan sudah tampil percaya diri.
"Kakimu
kenapa?" Hera terpaku pada kaki Arfi.
Remaja
berambut pendek menatap kosong mereka berdua. Bagaimana mungkin mereka bisa
lupa.
"Aku
jatuh waktu di sana. Kalian tidak ingat?"
"Seingatku,
kita hanya jalan-jalan lalu cahaya membawa kita kembali." Hera menanggapi.
Daffa
yang memperhatikan Arfi dari bawah sampai atas mengerucutkan bibir. "Yang
penting kita kembali. Kita makan kue saja di rumahku, yuk!"
Arfi
tak habis pikir, tapi sesuai perkataan Daffa, yang terpenting mereka berhasil
selamat. Suatu hal yang bagus juga jika mereka tidak mengingatnya sama sekali.
***
Komentar
Posting Komentar