Postingan

Baru Mengerti

  Aku sedang berdiri di depan makam seseorang yang kucintai. Di tengah   hari seperti ini, rasa bersalah semakin membesar jika mengingat kematian Wanda. Saat itu tanggal 24 Maret 2018 aku masih teringat sedang berdiri di pinggir jalan menatap seseorang yang menuruni kendaraan dengan raut bahagia. Tengah malam yang ku pijaki seolah menandakan betapa temaramnya hati yang kurasakan saat seseorang yang ku cintai lebih bahagia bersama orang lain dibandingkan denganku. Mungkin diantara kami sudah tidak ada kata cinta lagi. Karena aku ... Memang tidak sepantasnya untuk dicintai. Tanpa aba-aba, tubuhku ini berjalan mendekati mereka. Aku terlalu penasaran sekaligus cemburu dengan pria yang membuat Wanda tersenyum. Namun begitu aku datang, senyuman itu tidak terlihat lagi. Ia hanya tersenyum kepada pria yang dicintainya. “Fadli, kenapa kamu?” menarik tanganku untuk menjauh dari pria yang baru saja mengantarnnya, “Apa ka m u masih tidak mengerti?” lanjutnya, Aku yang merasa s...

Bayangan Jiwa

  M alam yang diselimuti oleh awan gelap itu mulai menurunkan air hujan. Suasananya begitu mencekam ditemani oleh suara guntur yang mendegam. Dhea duduk seorang diri di halte menunggu bus selanjutnya. Selagi menunggu, gadis itu memerhatikan seorang pria yang berdiri di seberang jalan. Mungkin sekarang sudah setengah jam lamanya. Dhea bersidekap sembari memandangnya. Pria itu kini beralih, beringsut membiarkan diri terkena hujan. " Apa yang ada dipikirannya? Dia sudah gila! " gumam Dhea dalam hati. Dhea mengamati wajah pria itu baik-baik. Gurat wajah penuh kekhawatiran terpampang padanya. Namun kejadian tidak diinginkan terjadi. Pria itu berjalan semakin dekat dengan jalan raya dan menghentikan langkahnya di tengah jalan. Di depannya ada sebuah mobil yang melaju dengan kencang. Kali ini Dhea tidak bisa tinggal diam. Bila kejadiannya diluar kendali, mau tak mau Dhea menghampirinya dan membawanya kembali ke sisi jalan. “Kau bosan hidup, ya ?! ” gerutu Dhea. “ k alau ...

GENERASI Z SEBAGAI TARGET RADIKALISME DI MEDIA SOSIAL

  Dikutip dalam laman JawaPos.com sebagaimana temuan riset Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2020 yang melaporkan potensi generasi Z (rentang usia 14-19 tahun) terpapar radikalisme mencapai 12,7 persen, sementara generasi milenial (berumur 20-39 tahun) mencapai 12,4 persen. Selain itu, Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo menegaskan bahwa generasi Z dan milenial menjadi sasaran empuk lantaran sangat aktif dalam mengakses internet maupun platform media sosial lainnya. Dalam hal ini dapat ditarik benang merah jika media sosial selain dari penyebar akses infomasi juga sebagai sarana mempercepat radikalisasi. Berdasarkan penelitian Pusat Kajian Terorisme dan Konfilk Sosial Universitas Indonesia Solahudin   bahwa 85 persen melakukan aksi teror hanya dalam rentang kurang dari satu tahun setelah terpapar radikalisme melalui media sosial. Penggunaan media sosial memang sudah menjamur di lingkungan masyarakat Indonesia. Terlebih disaat pandemi aktivitas masyarakat di medi...

Bab 2 - Kerajaan Kribel

Gambar
  *** Arfian tak pernah berpikir bahwa dirinya akan berpisah seperti ini. Berada di tempat asing yang kini berbaring di ranjang kerajaan dengan kondisi luka di kaki sudah terbalut. Arfi mulai meragukan hal-hal yang diceritakan Ghinos. Mulai dari ceritanya yang tidak rinci, bertanya pun tidak bisa memastikan kebenaran jawaban. Perasaan bersalah menyeruak, jauh-jauh terseret ke negeri asing demi rasa keingintahuan yang sesaat. Dia seharusnya tahu batas. Remaja itu menengok, menatap ke arah jendela besar mengamati matahari yang bersembunyi di rindang pohong. Kicauan burung menyadarkan dia bahwa ini bukanlah negerinya. Sepersekian detik dia beranjak dari kasur dengan langkah pincang. Ruangan yang besar membuatnya butuh waktu untuk sampai ke pintu kamar. Tangan yang belum meraih knop, tiba-tiba terbuka sendiri-seolah membaca pikiran Arfi agar pintu segera terbuka. Langkahnya yang berjalan di kamar membuat mata berbinar. Lampu hiasan yang menjuntai di tengah lorong semburat jingga; hi...

Bab 1 - Negeri FanCY

Gambar
*** "Hei! Ayo kita kembali. Perasaanku tidak enak di sini." Kata Daffa yang tak henti melihat keadaan sekitar. "Sebentar. Bukankah ini menarik? Ini jelas bukan Narnia kan?" balas Arfian. Daffa menggeleng. Meskipun tugasnya menemani, dia tidak mau menemani Arfi ke neraka. Tapi apa boleh buat? Rasa takut yang mencekam mendadak berubah karena langit menjadi cerah. Daffa terpaksa ikut menjelajahi.  Baru melangkah beberapa meter dari portal waktu yang membawa mereka ke sini. Arfian yang sudah berjalan jauh, tak sengaja berjumpa dengan orang lain. Daffa yang berada di belakang, mulai merasakan takut lagi. Toh, hanya ada mereka bertiga.  Arfi tentu bertanya kepada orang itu dan orang yang dijumpainya menjawab. Karena bahasa yang digunakan berbeda, Arfi mencoba mengetik apa yang didengar diponselnya. " Sesalasamatsa dasatangsa disa nesagesarisa Fancysa." Dilihat dari struktur mirip dengan bahasa Indonesia. Satu hal yang berbeda adalah kata-kata itu disisipkan kata...

Prolog - O Negeri Fancy O

Gambar
Bandung, 20 Agustus 2021  Pukul 14.34 WIB Arfian seorang remaja aktif yang haus akan rasa penasaran. Selalu ingin tahu atau mencoba sesuatu sampai tak sadar bahwa mungkin akan membuatnya terjerembap dalam permasalahan masa lalu. Neneknya, Hana Rosita, menuntunnya dalam permasalahan itu. Tanpa mempertanyakan lebih lanjut, Arfian buta akan rasa penasaran yang diberitahukan oleh Hana. Dengan secarik notes berisikan alamat rumah, Arfian pergi ke sana ditemani oleh dua orang teman kompleknya. Hana menjelaskan begitu agar berjumlah ganjil—tak ingin cucunya pergi sendiri. Mereka adalah Hera Eliya dan Daffa Eriansyah. Awalnya tidak ada rasa takut maupun bimbang, namun begitu sampai mereka ragu karena alamat mengarah ke sebuah rumah tak bertuan yang bahkan tidak ada tetangga di sekitar. Seharusnya mereka tahu, rumah yang tak asing dibicarakan di komplek perumahan yang baru dibangun. Rumah yang terkenal tak bisa dihancurkan. Alhasil, Arfian memberanikan diri masuk ke rumah tua itu sendiria...