Prolog - O Negeri Fancy O
Bandung, 20 Agustus 2021
Pukul 14.34 WIB
Arfian seorang remaja aktif yang haus akan rasa penasaran. Selalu ingin tahu atau mencoba sesuatu sampai tak sadar bahwa mungkin akan membuatnya terjerembap dalam permasalahan masa lalu. Neneknya, Hana Rosita, menuntunnya dalam permasalahan itu. Tanpa mempertanyakan lebih lanjut, Arfian buta akan rasa penasaran yang diberitahukan oleh Hana.
Dengan secarik notes berisikan alamat rumah, Arfian pergi ke sana ditemani oleh dua orang teman kompleknya. Hana menjelaskan begitu agar berjumlah ganjil—tak ingin cucunya pergi sendiri. Mereka adalah Hera Eliya dan Daffa Eriansyah. Awalnya tidak ada rasa takut maupun bimbang, namun begitu sampai mereka ragu karena alamat mengarah ke sebuah rumah tak bertuan yang bahkan tidak ada tetangga di sekitar.
Seharusnya mereka tahu, rumah yang tak asing dibicarakan di komplek perumahan yang baru dibangun. Rumah yang terkenal tak bisa dihancurkan. Alhasil, Arfian memberanikan diri masuk ke rumah tua itu sendirian. Tangannya memutar knop pintu, secercah cahaya mulai menerangi rumah tersebut ketika pintu baru saja dibuka. Suasana sore yang mendadak berubah, terutama melihat pohon besar di halaman menggugurkan daun-daun kering membuat teman Arfi bergidik ngeri dan langsung menyusul.
Begitu mereka masuk, angin kencang tiba-tiba datang dari dalam hingga membuat pintu tertutup. Hal yang sangat mustahil terjadi karena angin di luar tidak begitu ribut.
Keadaan menjadi benar-benar gelap.
Hera maupun Daffa berbisik ingin pulang. Mencoba menarik gagang pintu tapi terkunci dari luar—entah macet karena pintu sudah rusak. Bertahan selama dua menit dalam kegelapan, seberkas cahaya merambat dari sudut ruangan ke seisi rumah. Arfi berjalan mundur, menyamakan posisi dengan kedua temannya yang sudah berdiri menyandar di pintu masuk. Cahaya itu semakin menyilaukan hingga membuat mereka mengenyit.
Percaya atau tidak, cahaya membawa mereka ke suatu tempat yang baru disadari setelah membuka mata.
"Tempat apa ini? Lebih baik kita kembali." Ujar Daffa.
"Entah, nenek tidak menceritakan ini."
Ya, siapa yang tidak terpesona. Tiba di atas tebing sementara di bawahnya adalah sungai yang di kelilingi hamparan rumput dan lembah. Sepanjang mata memandang gunung-gunung berjajaran. Matahari tersembunyi di balik gumpalan awan. Berbeda dengan wilayah di ujung pandang, langit bersinar terang di sekitar hulu sungai.
Sekelebat angin menerpa. Rambut panjang terurai Hera terbelai mengikuti gelombang ke arah barat. Di tempat mereka berdiri hanya ada satu pohon besar yang merupakan portal untuk kembali. Sisanya di belakang adalah hamparan rumput luas tanpa tahu akan di mana berujung. Angin membuat awan semakin menggelapi posisi serta atmosfer yang dirasakan menjadi lebih dingin.
Ini bukan bumi, batin Hera.
Tidak sampai di situ, mereka melihat sekerumunan burung, terbang mengikuti arah angin. Kepakan sayapnya begitu memekakkan. Kicauannya seolah menyuruh mereka pergi secepat mungkin. Cahaya semakin gelap dan perasaan Hera kian tak karuan. Dia bukan satu-satunya yang merasa ketakutan. Arfian diam terpaku memandang wilayah di ujung sana; Daffa malah ikut-ikutan memperhatikan fokus Arfian.
Mereka tidak tahu ada di mana sekarang, tapi yang jelas Hera tidak suka. Negeri asing, dunia fantasi, atau apapun sebutannya, tidaklah nyata.
***
Bersambung ^^
Rameee , cerita nya kenapa pindah kak?
BalasHapus